Tag

, , , , , , ,

KOMUNAL BRAND
================

komunal brand subiakto

Subiakto

Puluhan tahun silam Jepang menerapkan OVOP – One Village One Product. Setiap Desa Punya Satu Produk Unggulan. Akhirnya setiap desa emnciptakan produk unggulan yang diikuti oleh produk2 lainnya didesa itu

Bukti program OVOP itu berhasil bpk Menteri Desa Tertinggal dan Transmigrasi kita sampai belajar ke Jepang. Mari kita tunggu hasilnya

Korea menyusul dengan konsep OVOB. One Vilage One Brand. Satu Desa punya Satu BRAND. Gak hanya produsen yang punya produk dan merek bahkan petani sekalipun harus punya merek untuk hasil buminya. Seperti sering saya sampaikan bahwa BRAND adalah ikatan emosi antara produk anda dan konsumen anda. Artinya setiap produsen dan petani di Korea harus membangun hubungan emosi dengan konsumennya

Pemerintah Korea konsisten dengan policynya. Mereka membuat kantor khusus melayani keperluan branding di masing2 desa termasuk pengurusan patem HKI dan implikasinya. Kita?

Melihat hal tersebut diatas terpikir oleh saya “Mengapa kita tidak menggunakan DESA sebagai BRAND? Mengingat definisi Brand adalah ikatan emosi antara produk dgn konsumennya maka dengan mudah kita membangun ikatan emosi antara DESA dengan penduduknya?”

Kalau DESA sebagai BRAND bersama maka dengan mudah kita mendapat LOYAL CUSTOMERS sebagai CAPTIVE MARKET (pasar yg tersedia). Karena logikanya setiap penduduk desa pasti loyal terhadap desanya

Indonesia punya 34 propinsi, 444 kabupaten dan kabupaten kota, 8000an kecamatan dan 75.000 desa. Bukan main besarnya …

Kalau setiap DESA menjadi BRAND maka Indonesia bakal punya …

Kalau kita punya 75.000 brand DESA diikuti dengan INDIVIDUAL BRAND dari produk2 didalamnya, dengan captive market LOYAL CUSTOMERS di masing2 desa, maka tak ada ruang sesempit apapun buat merek luar masuk ke Indonesia. Khususnya dalam arena terbuka MEA ini

Maka 75.000 BRAND itu memiliki kemampuan untuk mendisrupt merek2 yang masuk sekalipun mereka banting2an harga

Begitu pentingkah membranding masing DESA atau KOTA masing2?

Tak kurang bapak Presiden memerintahkan setiap kepala daerah FOKUS MEMBANGUN BRAND menunjukkan pentingnya membangun BRAND DESA dan KOTA masing2

Bahkan menurut bapak Presiden membangun DESA atau KOTA yang ber karakter bisa menghemat anggaran. Luar biasa

Bapak Presiden memberi contoh Palembang misalnya, kalau mau fokus ke olah raga ya olah raga saja. Lucunya Palembang berusaha membranding kotanya sebagai kota olahraga karena fasilitasnya yang lengkap masyarakat indonesia sudah sejak dulu sudah terlanjur mengenal Palembang sebagai kota … PEMPEK.

Mangubah LABEL kota pempek yang sudah melegenda dengan olahraga sebagai positioning baru bakalan ngos-ngosan

Bahkan bapak Presiden mengilustrasikan Papua sebagai daerah SEPAKBOLA dengan membangun lapangan sepak bola, namun tidak mudah mengubah persepsi masyarakat bahwa Papua sudah di label dengan burung Kasuari dan Buah Merahnya

Menurut beliau Bima bisa membuat positioningnya sebagai kota PELARi mengingat banyak putra2 Bima yang memang jago lari. Cukup bangun stadion atletik yang banyak bakal menjadi positioning baru bagi Bima yang selama ini dikenal dengan kuda dan madu hutannya

Dan bapak Presiden menutup dengan kurang sukanya beliau akan KOTA BUDAYA. Terlalu luas. Gak jelas. Gak SPESIFIK. Seperti Jogja kalau mau jadi kota lukis ya kota lukis saja. Solo kalau mau jadi kota tari ya kota tari saja. Kalau kota budaya ya lebar sekali. Apalagi harus mengubah positioning yang selama ini dikenal masyarakat luas Jogja senagai KOTA GUDEG dan SOLO sebagai KOTA NASI LIWET. hehehe

Melihat komentar2 bapak Presiden jujur saja saya salut dan menaruh hormat pada beliau atas gagasannya yang sangat sejalan dengan konsep KOMUNAL BRAND yang selama ini saya populerkan ke daerah2 dalam materi kelas saya. Dan saya tau banget beliau belum pernah hadir di kelas saya loh hahaha

KOMUNAL BRAND itu intinya menggunakan nama kelompok atau komunitas sebagai BRAND bersama. Bisa komunitas hobby, komunitas gerakan, organisasi massa, desa atau kota

Apalagi dalam arena MEA seperti sekarang ini Indonesia bakal menjadi sasaran terbuka bagi produk2 Asean dan Negara2 lain. Bayangkan, bagi Singapure yang penduduknya hanya 5.3 juta, Indonesia dengan penduduk 250 juta itu guede banget loh. Bagitu juga Malaysia yang hanya 15jutaan, Thailand, Phillipine, Brunei dll

Maka KOMUNAL BRAND bisa menjadi salah satu pilihan bertahan dari serangan produk2 dan brand2 asing masuk ke Indonesia

Oke, sekarang masuk ke BAGAIMANA CARANYA MEMBANGUN KOMUNAL BRAND?

Struktur KOMUNAL brand itu adalah PRODUK, DESA, MEREK INDIVIDUAL. Produk yang berbasis Indokasi Geographis, Nama Desanya, dan merek masing2.

Saya kasih contoh ya, Rendang Padang Beringin. Rendang adalah produk berbasis Indikasi Geographis, Padang nama Kotanya dan Beringin merek Restonya

Contoh lain. Godeg Jogja Yu Djum. Gudesg adalah produk yang berindikasi geographis, Jogja adalah Kotanya, dan Yu Djum adalah merek personalnya

Contoh lain lagi Sate Maranggi, Purwakarta, Hj Yeti. Sate Maranggi adalah produk berbasis Indikasi geographis, Purwakarta nama kotanya dan Hj. Yeti merek personalnya

Sampai disini sudah jelas kan?

Nah. Bagaimana bila sebuah kota atau desa tidak memiliki Indikasi geographis yangkhas? Maka kota atau desa tersebut akan mengadopsi budaya yang dibawa pendatang

Inillah yang terjadi. Loepia Semarang mbak Lien. Loenpia produk yang dibawa pendatang, Semarang nama kotanya, dan Mbak Lien merek personalnya

Contoh terakhir adalah Bakpia Pathuk 25. Bakpia nama produk yang dibawa pendatang ratusan tahun lalu, Pathuk adalah nama desanya, dan 25 adalah merek personalnya

Sampai disini penjelasan saya KOMUNAL BRAND

( Subiakto 25 Mei 2016)
#master branding Indonesia
#kulgram sharing branding

Iklan