Tag

, ,

 

 20/04/16, 19:46  – Juli Nava Branding:

Assalamualaikum wr.wb 🙂 terima kasih banyak mbak Devy, atas kesempatannya 🙂 Wah berarti saya nggak bisa nanya ke peserta ya, hehehehe….karena steril .Baiklah, kita akan mulai dengan materi tentang Islamic Branding. Saya memegang spesialisasi coaching Personal Branding dan Islamic Branding. Kemarin saya sempat melihat profil rekan-rekan di sini yang 100% pebisnis . Tentunya sudah tidak asing lagi dengan konsep mengenai Branding. Branding bukan sekedar masalah kita punya logo atau tidak, melainkan lebih dari itu.

Konsep Branding setidaknya meliputi tiga unsur:

1. PROMISE/ JANJI kepada customer dan khalayak

2. DIFERENSIASI

3. KOMUNIKASI

20/04/16, 19:55 – Julie NavaBranding:

Saya ambil contoh tentang satu produk berlabel Sambel Pecel Enak Eco. Enak Eco artinya enak, nikmat, jempolan. Sambel Pecel adalah jenis produknya. Dengan mendengar nama “Enak Eco Sambel Pecel”, maka orang akan berharap mendapat produk berjenis sambel pecel. Karena itu yang dijanjikan. Kalau sampai bungkusannya Enak Eco Sambel Pecel tapi ternyata isinya duren, maka si pemilik brand sudah INGKAR JANJI, hehehehe…

20/04/16, 19:57 – Julie NavaBranding:

Kemudian DIferensiasi, Sambel Pecel Enak Eco harus bisa dibedakan kualitasnya dengan sambel pecel lainnya. Itu nanti menyangkut soal positioning. Bisa lebih murah, lebih unik, atau lebih bagus, atau lainnya. Dan kemudian Komunikasi, menyangkut tentang proses bagaimana agar brand Sambel Pecel Enak Eco bisa sampai ke konsumen/khalayak.

20/04/16, 19:59 – Julie NavaBranding:

Nah sekarang, kita bicara tentang ISLAMIC BRANDING. Apa yang diharapkan oleh khalayak/konsumen saat sebuah produk memasang label “ISLAMI”? Tentu yang diharapkan adalah bahwa produk tersebut benar-benar memenuhi syarat sebagai sebuah produk yang diproduksi, dijalankan, dan dipasarkan dengan cara-cara yang sesuai dengan value/nilai dalam Islam. Jika tidak, maka itu bukan Islami namanya.

20/04/16, 20:00 – Julie NavaBranding:

Nah, sekarang, apa sih syarat-syarat agar sebuah produk bisa termasuk dalam kategori Islami? Inilah yang akan kita bicarakan dalam Kuliah Online kali ini.

20/04/16, 20:03 – Julie NavaBranding:

Sebelum masuk dalam pembahasan tentang Islamic Branding, terlebih dahulu saya akan memaparkan MENGAPA KITA PERLU ISLAMIC BRANDING? Yang pertama, karena ada kebutuhan dan pangsa pasar yang riil. Ummat Islam di dunia ada 23,4% dari seluruh populasi penduduk dunia. Dan tahun 2030, diproyeksikan jumlahnya mencapai 2,2 milyar. Ada antara 47-59 negara yang penduduknya mayoritas Muslim. Ini adalah pangsa pasar yang sangat besar.

20/04/16, 20:04 – Julie NavaBranding:

Yang kedua, adalah pertumbuhan DEMAND di sektor produk yang sesuai syariah, yang terus menanjak pesat, bahkan di negara-negara non-muslim. Terutama untuk kategori produk makanan halal dan sistem perbankan non-riba

20/04/16, 20:07 – Julie NavaBranding:

Yang ketiga, adalah soal TANGGUNG JAWAB kita sebagai Muslim. Dengan jumlah penduduk Muslim sebesar itu di seluruh dunia, bagaimana kita bisa membantu mereka memenuhi kebutuhannya? Bagaimana agar mereka bisa mendapatkan akses ke lembaga keuangan non riba, makanan halal, produk yang tidak mencemari lingkungan, produk yang tidak mengeksploitasi manusia dan SDA dengan berlebihan? Tentunya itu turut menjadi bagian dari tanggung jawab kita. Jangan sampai kita memasarkan produk kepada sesama Muslim hanya dengan berbasis keuntungan, tanpa memperhatikan aspek-aspek lain di dalamnya. Sebab kalau demikian, artinya kita turut berpartisipasi dalam penghancuran kualitas ummat.

20/04/16, 20:08 – Julie NavaBranding:

Untuk itulah, maka kita perlu memahami kaidah-kaidah yang tercakup dalam ISLAMIC BRANDING. Sehingga ketika orang mendengar istilah Brand yang Islami, mereka yakin dan percaya bahwa itu benar-benar diproduksi dan dijalankan sesuai dengan nilai-nilai dalam Islam.

20/04/16, 20:11 – Julie NavaBranding:

Sebuah Brand yang Islami, tidak hanya sekedar berkisar pada soal halal-haram, atau label syar’i. Daging sapi itu halal, tapi kalau cara menjualnya dengan cara mengglonggong sapi dengan aiir sebanyak-banyaknya agar kelihatan gemuk sebelum disembelih, maka itu artinya didapatkan dengan cara haram. Karena ada unsur menipu konsumen. Kacang atom itu snack halal. Tapi kalau cara pembuatannya dengan melanggar hak buruh, misalnya upah telat dibayar, pekerja dipaksa lembur, dll… maka prosesnya termasuk tidak Islami. Jadi kalau kita bicara sebuah branding, termasuk Islam, pendekatannya haruslah KAFFAH, alias HOLISTIK. Dari hulu sampai ke hilir.

20/04/16, 20:12 – Julie NavaBranding:

Jadi terlihat di sini, ya. Bahwa sebuah Brand itu tidak semata-mata soal Logo, Produk, atau Marketing.

20/04/16, 20:18 – Julie NavaBranding:

Untuk tema ISLAMIC BRANDING yang Holistik, alias Kaffah, ada setidaknya 4 UNSUR yang perlu kita perhatikan, yakni:

1. DIRI (Ini yang saya garap melalui training Personal Branding)

2. PRODUK (berkaitan dengan produk bisnis yang kita buat)

3. LEMBAGA (berkaitan dengan hal-hal yang bersifat lembaga, seperti: perusahaan, komunitas, dll)

4. SIMBOL / IMAGE (yang berkaitan dengan Logo, ekspresi, dll) Karena waktu dibatasi hanya sampai pukul 22.00, saya hanya akan membahas soal Nilai-Nilainya dulu. Karena itu yang penting untuk dipahami.

20/04/16, 20:21 – Julie NavaBranding:

SUMBER NILAI DALAM ISLAM berasal dari Alquran’, Sunnah, Rukun Islam dan Iman, Sistem Hukum, Fatwa, dan sisi persona dari Tuhan, para Nabi, dan orang-orang yang dikategorikan mulia menurut ajaran Islam.

20/04/16, 20:24 – Julie NavaBranding:

Secara ringkas, NILAI-NILAI UTAMA DALAM ISLAM bisa dikategorikan dalam 8 hal, yakni: 1. Keseimbangan/Harmoni

2. Kemurnian

3. Amanah

4. Kepedulian pada Ummat

5. Konsistensi

6. Iqro’

7. Keluarga

8. Compassion

20/04/16, 20:24 – Julie NavaBranding:

Jadi saat melakukan sebuah aktifitas, sandarannya ada pada 8 nilai utama tersebut, yang semuanya tercantum dalam sumber nilai di atas. Yang lainnya adalah aspek Keindahan, dan Kualitas Pribadi. Jadi total ada 10 nilai utama, kalau kita gabungkan. Itu Panduannya 🙂 Branding yang Islami berawal dari penerapan nilai-nilai utama itu.

20/04/16, 20:29 – Julie NavaBranding:

Sekarang bagaimana penerapannya yang lebih jauh terhadap PRODUK dan MARKETING? Bagaimana agar produk kita bisa Kaffah? Ingat, bahwa soal Branding Islami ini bukan semata-mata urusan label halal atau syar’i, melainkan juga cerminan dari penerapan Nilai-Nilai Utama dalam Islam.

20/04/16, 20:33 – Julie NavaBranding:

Dalam Islam, tidak ada yang namanya EGOIS. Ekonomi dijalankan dengan memperhatikan: 1. pengembangan Ekonomi Ummat 2. Bermanfaat bagi Siapapun / Rahmatan Lil Alamin (baik Muslim maupun Non Muslim) 3. Menjadi Berkah bagi Semua Mahluk dan Alam ciptaan Tuhan 4. Tidak merugikan atau membuat kerusakan 5. Aman dan Bisa Dipercaya (Trusted)

20/04/16, 20:37 – Julie NavaBranding: Sekarang saya kasih contoh satu Checklist untuk memeriksa, apakah produk yang kita jalankan sudah sesuai dengan Nilai Islam atau belum. Pertama, untuk PRODUKSI, monggo dicek:

1. Kualitasnya bagus atau buruk?

2. Mengandung bahan berbahaya atau aman?

3. Ada jaminan mutu/garansi atau tidak?

4. Kemasan, label, penyajian, menarik atau tidak? (Ingat, dalam Islam kita diharapkan memperhatikan unsur keindahan juga)

5. Ramah Lingkungan atau tidak?  Ini masih secuplik contoh. Segi lainnya yang perlu diperhatikan cukup banyak.

20/04/16, 20:46 – Julie NavaBranding:

Pertanyaan Nomor 1: Apa yang musti kita lakukan saat ada proyek di depan mata, tiba-tiba cancel. Apa yang harus dilakukan?

Jawaban saya: Yang pertama kali kita lakukan adalah Introspeksi. Yakni dengan cara menganalisa, mengapa sebuah proyek Cancel? Adakah unsur kesalahan dalam cara kita bernegosiasi? Ada unsur ketidaksamaan goal dengan pelaku proyek lainnya? Atau adakah hal-hal lain yang terkait dengan aspek etika? Untuk hal-hal yang bersifat teknis, seperti cara kita Marketing, cara kita bernegosiasi, itu bisa kita tingkatkan dan latih. Namun untuk hal-hal yang bersifat PRINSIP, semisal pola kerjasama yang keliru, melanggar akidah, dans ejenisnya, maka tentu kita tidak boleh menyesalinya. Sebab itu urusannya dengan prinsip. Jadi kalau negonya begini misalnya: Supaya lancar urusan tender, si pemberi tender minta disediakan uang pelicin. Nah itu bertentangan dengan nilai Islam tentunya. Kita tidak apa-apa jika kemudian mundur atau tidak memenangkan tender. Sebab kalau kita kejar, maka yang tercoreng adalah Brand Islami kita sendiri. 20/04/16, 20:48 – Julie NavaBranding: Jadi, jika ada proyek yang tiba-tiba cancel seperti itu, kita cari dulu penyebabnya, dan melakukan koreksi diri. Setelah itu kembali mencari peluang lain, atau mengontak kembali pihak ybs untuk melakukan nego ulang. Namun jika alasan cancelnya berhubungan dengan soal prinsip, maka ikhlaskan saja. Insyaallah bisnis tidak akan rugi.

20/04/16, 20:52 – Julie NavaBranding:

Pertanyaan Nomor 2: Sertifikasi tidak diperpanjang, dan si pemilik usaha tetap mencantumkan logo halal, dengan alasan biaya 2,2 juta/2 tahun terlalu mahal. Jawaban saya: Seharusnya ini tidak dilakukan oleh si pemilik usaha tersebut. Sebab dengan cara itu, artinya dia kan menyalahgunakan sesuatu. yakni aturan penggunaan label halal. Mengapa label halal perlu diperbaharui? Salah satu alasannya adalah untuk KENDALI MUTU. Jadi bukan semata-mata soal bayar. Biaya sebesar 2,2 juta / dua tahun itu murah sekali. Cuma 1,1 juta saja per tahun. Untuk bisnis UKM sekalipun, nggak mungkin terlalu berat. Dalam sebulan, saya yakin semepet-mepetnya profit, kalau cuma dapatin 5 juta/bulan itu bisa. Jadi menurut hemat saya, TIDAK ADA ALASAN untuk tidak memperbaharui sertifikasi halal, hanya karena alasan harga.

20/04/16, 20:55 – Julie NavaBranding: Dan biaya untuk sertifikasi seperti itu, sebenarnya juga berfungsi ganda. Selain untuk Kendali Mutu, juga untuk meningkatkan nilai Brand positif. Ada asosiasi dengan lembaga resmi, dan bisa dipercaya. Asosiasi/Keterkaitan ini sangat penting dalam Brand. Kalau kita diasosiasikan negatif, seperti contoh pengusaha yang tidak memperpanjang sertifikat halal itu, maka dengan sendirinya itu turut menyumbang imej negatif tentang Brand Islami di mata konsumen. Bayangkan jika ada konsumen yang tahu, bahwa labelnya kadaluarsa. Tentu mereka akan mempertanyakan, kok kadaluarsa masih dipakai? Beneran halal nggak, nih? Wahhhh… bahaya nih, yang Islam aja nggak jujur….dst.

20/04/16, 21:01 – Julie NavaBranding:

Pertanyaan Nomor 3: Apakah ada standarisasi dalam Islamic Branding seperti ISO, dsb? Jawaban saya: Untuk produk berkategori internasional, standar-standar semacam itu tetap diberlakukan, termasuk untuk produk-produk berlabel Islami. Di sini, ada lembaga khusus yang memberikan sertifikasi halal, sebagaimana halnya di Indonesia. Dan penggunaannya juga dengan aturan tertentu. Sudah memenuhi kaidah produksi yang Islami, dsb. Namun sayangnya, masih banyak juga yang membajak sertifikasi mereka. Ini memprihatinkan. Standar seperti ISO itu juga sebenarnya bisa kita kategorikan sebagai hal yang tidak bertentangan dengan nilai Islam. Karena di dalamnya universal. Alias aspek kendali mutu di dalamnya bisa diterapkan pada siapa saja, dan di mana saja. Juga berlaku untuk pasar global.

20/04/16, 21:04 – Julie NavaBranding: Untuk kategori seperti daging halal, ada aturan tambahan yang diberlakukan, yakni proses penyembelihan harus sesuai dengan teknik yang Islami. Tambahan lainnya: jika daging itu dipasarkan berupa Grass-Fed Meat, misalnya, maka juga harus mengikuti standarisasi tentang pemeliharaan ternak yang diberi pakan rumput asli, bukan pakan sintesis. Itu ada dalam aturan internasional.

20/04/16, 21:07 – Julie NavaBranding:

Pertanyaan Nomor 4: Tips dan Trik menaikkan branding untuk UKM. Karena keterbatasan dana, juga karena gembar-gembor pentingnya branding pemilik dengan branding produk.

Jawaban saya agak panjang untuk yang ini, hehehehe….. sebentar

Sekarang jawaban untuk Pertanyaan Nomor 4: Tips and Trik menaikkan Personal Branding dengan dana terbatas.

Jawaban saya: Ada banyak sekali cara untuk meningkatkan Personal Branding kita. Namun kita terlebih dahulu harus paham dulu, Personal Branding kita seperti apa. Ini yang perlu diinvestasikan. Luangkan waktu dan dana untuk mengenali Personal Branding anda terlebih dahulu. Selanjutnya, soal menaikkan itu insyaallah lebih mudah. Saya bisa kasih banyak sekali tips dan trik, kalau orang sudah tahu personal branding dia kayak apa. Kalau saya belum tahu, nah ini bisa salah teknik nanti. Yang paling sulit itu, dan seringkali salah alamat, adalah orang mempromosikan hal yang menurut dia Personal Branding, padahal bukan itu sebenarnya. Seperti yang saya bilang tadi, urusan Branding Diri itu bukan semata-mata soal kita terkenal atau tidak. Melainkan juga kita tahu, apa saja sih inti dari brand Diri kita? Dan bagaimana mengkomunikasikannya? bagaimana menerapkannya dalam keseharian, termasuk dalam bisnis? Dst

20/04/16, 21:33 – Julie NavaBranding: Jadi, luangkan waktu dan dana untuk mengenali Branding Diri teman-teman. Pengusaha besar seperti pemilik Mayora, kita tidak tahu siapa dia, tetapi kita tahu hasil kerjanya, bukan? Nah, sukses yang seperti itu, tidak akan mungkin diraih jika personal brandingnya tidak kuat. Personal Branding bukan semata-mata soal kita terkenal atau tidak. Melainkan juga soal kita fokus atau tidak, tahu apa yang kita inginkan, menjalankan hal yang benar-benar dia kuasai atau tidak, dan Expert, alias ahli dalam bidang yang ditekuni. Jadi kalau ada yang menganggap Personal Branding itu harus terkenal atau apa, itu sedikit keliru sebenarnya. Bukan itu tujuan utama dari Personal Branding. Banyak orang yang kuat Personal Brandingnya, namun memilih tidak dipublikasi. Itu oke-oke saja. Namun yang jelas, orang tahu siapa dia, dan apa yang dilakukan, juga hal-hal lainnya. Seperti contoh boss Mayora. Dia jarang diliput. Orang jarang kenal. Tapi kalau ada pengusaha lain yang ingin kerjasama dengan Mayora, pasti mereka akan datang ke bossnya. Bukan datang ke boss perusahaan lain. Sebab mereka sudah tahu, siapa yang punya. Nggak bakalan salah alamat pergi ke rumah tetangganya, misalnya. Jadi di lingkaran dia sendiri, brandnya kuat, meskipun mungkin di kalangan khalayak tidak banyak terekspos.

Keterkenalan, banyak diliput media massa, banyak disorot televisi, sebenarnya adalah dampak dari pilihan kita dalam mengkomunikasikan Brand Diri kita. Jadi seperti saya, akhirnya dikenal oleh teman-teman di grup ini, karena saya berkomunikasi melalui grup ini. Kalau saya berusaha bertemu wartawan agar diliput, maka tentu efeknya akan didapat jika saya berhasil dimuat di media massa. Jadi itu tergantung pilihan kita dalam mengkomunikasikan Brand. Banyak di sini, milyuner yang biasa-biasa saja, sebab mereka memilih tidak terekspos. Dan itu oke saja 🙂

Pertanyaan nomor 5: Sekarang kita beranjak pada kaitannya dengan Branding bisnis atau Branding UKM: Apakah kesuksesan sebuah UKM tergantung juga pada Personal Branding pemiliknya?

Jawaban saya: ADA KAITANNYA. Dalam training Personal Branding yang saya adakan, boleh dibilang hampir 80% pemilik bisnis kurang bisa mengkomunikasikan Brand Diri mereka. Atau justru mereka sendiri yang tidak paham tentang Brand Diri mereka yang sesungguhnya. Sehingga kadang-kadang hasilnya tidak maksimal. Banyak pelaku bisnis bermodalkan ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Itu tidak keliru, tapi kalau mau beneran membranding diri, itu tidak cukup. Karena setiap orang punya gaya unik, berbeda, dan dalam branding seharusnya yang digali lebih dalam adalah keunikan kita. Bukan foto copy orang lain. Kalau foto copy, berat nanti hehehehe….. Contoh: Saya kenal unsur-unsur Personal Branding saya. Dan itu tidak cocok untuk jenis bisnis berbasis MLM. Dari dulu saya mencoba berbagai bisnis MLM, selalu kukut alias gulung tikar. Sebab memang saya nggak cocok. Beda halnya ketika saya menjalankan bisnis Consulting, Coaching, dan Riset. Itu udah mendarah daging. Boleh dibilang,, saya bernafas dengan tiga hal itu. Makanya saya bisa cepat berkembang. Ada klien saya yang lain, dia juga tidak cocok berbisnis dengan cara MLM. Setelah saya gali, dia lebih cocok untuk jenis bisnis Konsultan juga. Jadi saya kasih input supaya mencoba ke arah sana.

20/04/16, 21:24 – Julie NavaBranding: Ada juga klien saya yang justru tidak pas dalam mengkomunikasikan bisnisnya. Sebagai contoh, serupa dengan yang boss Mayora itu. Dia tidak nyaman kalau harus aktif di Facebook dsb. Jadi cara komunikasi dia harus dipilih yang lain, yang kira-kira nyaman bagi personalitinya.

20/04/16, 21:26 – Julie NavaBranding: Dan Personal Branding, juga berkaitan dengan mendukung Brand positif dari produk kita. Orang nggak akan beli jamu sehat kuat dari orang yang tampilannya kucel dan lesu. Orang juga nggak akan percaya begitu saja dengan tawaran kursus ini itu, jika melihat pemiliknya tidak konsisten dengan produk yang ditawarkan. Contoh: orang akan lebih percaya membeli obat dari dokter, misalnya. Dibandingkan dengan membeli obat yang saja dari orang lain yang berprofesi lain. Sebab ada kesinambungan asosiasi.  Jadi ada kaitan antara mengenali personal Branding kita, dengan kesuksesan bisnis 🙂 2

20/04/16, 21:39 – Julie NavaBranding:

Sekarang pertanyaan Nomor 6: Sistem MLM halal atau enggak?

Jawaban saya: Kalau menurut saya, itu halal, selama BUKAN MONEYGAME. Ada bedanya antara MLM yang beneran, dengan Moneygame (atau main-main uang). MLM ditujukan untuk memperluas jaringan pemasaran dengan menggunakan distributor, yang berasal dari konsumen sendiri. Caranya adalah, dengan merekrut konsumen sekaligus sebagai pemasar, dan memberikan insentif tambahan berupa diskon, atau fee jika ybs berhasil merekrut member lain. Produk MLM juga jelas fisiknya, ada harga, ada sistem produksi yang bisa dipertanggungjawabkan, ada sistem komisi yang jelas, ada bagian penanganan komplain, customer service, dll layaknya sebuah bisnis yang sehat. Sedangkan Moneygame, kelihatan dengan jelas kalau yang diburu hanya member, member, member. Juga menawarkan kapling, kapling, kapling. Kayak gitu. Sementara produknya sendiri nggak jelas dan seringkali terlalu mahal, kalau ada komplain dari konsumen tidak tahu gimana menindaklanjutinya, dan sejenisnya. Itu menurut saya perbedaan yang paling jelas.

20/04/16, 21:42 – Julie NavaBranding: Ohya, jika teman-teman ada yang berminat untuk mengikuti training Personal Branding atau Islamic Branding, bisa nanti kita bikin 🙂 Saya mengadakan training online, di mana teman-teman bisa mengikutinya dari mana saja, dan bisa mendengar langsung suara serta pemaparan materi dari saya.

Pertanyaan Nomor 7: Produk saya Rendang kemasan, sangat sulit untuk keluar negeri dg cara resmi bahwa mereka tidk menerima daging olahan, katany daging Indonesia belum terbebas penyakit kuku dan mulut, taun ini ada agen sy yang bawa rendang kami ke Festival tong tong d Belanda, barang d bawa melalui kontainer berserta barang2 lain, katanya kalo ketauan bawa rendang ga boleh. Nah itu gmana? Masalah sertifkat, dinkes, malah sekarang dapur kami sedang pemeriksaan ISO?dia beli tunai ke saya ini kali ke 3 sejauh ini aman.

Baik, saya jawab Pertanyaan Nomor 7: Produk Daging dari Indonesia memang selektif. Untuk unggas, ternak, tanaman, proses seleksinya memang ketat betul. Itu benar, kalau ketahuan, akan langsung disita dan dimusnahkan. Kalau lolos, seperti yang dilakukan oleh teman mbak, maka itu oke-oke saja. Tapi tentu jumlahnya nggak bisa banyak, bukan? Jadi tetap perlu jalur resmi, kalau mau berkembang besar. Untuk produk yang berorientasi ekspor, sejauh ini yang saya tahu, ada juga produk daging asal Indonesia. Misalnya abon dan dendeng sapi, juga rendang kalengan. Juga ada ikan kering. Itu disalurkan melalui agen/distributor resmi. Distributor itulah yang menanggung semua tanggung jawab mengenai kualitas dsb. Kalau ada apa-apa terjadi, yang akan kena duluan adalah si distributor, berikut juga blacklist dari pemerintah untuk produk tertentu. Coba nanti kalau ingin ekspor rendang, mencari informasi mengenai distributor makanan Asia ke pasar internasional. Atau coba tawarkan produknya ke Alibaba.com….dari situ biasanya tawaran untuk volume besar datang 🙂

Pertanyaan Nomor 8. Apa pendapat Mba Julie Nava dan hubungannya dg hukum jual beli dlm islam: ada 2 produk yang sama. Yang satu d jual dengan harga 100rb, sesuai dg manfaat dan keuntungan normal. Yang satu lagi d jual dg harga 300rb, dg iming2 diskon 50%, plus bonus piring, plus voucher seharga 50rb

Jawaban pertanyaan Nomor 8: Saya kebetulan lupa dengan nama teknik ini. Tapi menurut saya, itu termasuk Trik Marketing, dan nilai Brand. Saya pernah mendapati sebuah baju yang sama. Kemeja motif kotak-kotak warna merah. Yang satu brandnya H&M, yang satu lagi saya lupa. Tapi yang satunya itu brand lokal dan lebih mahal. Kemejanya persis sama, harga beda. Nah, untuk kasus yang ini, itu termasuk dalam kategori membeli Brand. Jadi saya nggak beli kemejanya sebetulnya, melainkan membeli brand-nya.

20/04/16, 21:58 – Julie NavaBranding: Dan itu oke saja, selama feeling saya oke. Karena konsumen tidak selamanya membeli berdasarkan jenis barangnya, tetapi juga membeli brand, terutama untuk pembeli yang gila brand atau gila kualitas. Melainkan juga persepsi terhadap brand. Ada banyak produk di rak supermarket yang isinya sama. Kemungkinan besar berasal dari produsen yang sama. Begitu dikemas, jadi beda harga atau selisih dikit. Misal: kacang ijo mentah 1 kg dikemas kertas dengan logo biasa. yang satu lagi dikemas plastik dengan logo yang menarik. Itu saja sudah bisa main positioning di imej dan harga. Kadang saya beli berdasarkan perbandingan harga, kadang saya beli berdasarkan konten. Kalau isinya nggak beda sama sekali, dan kebutuhan saya hanya itu, maka tidak jadi soal mau pilih yang mana. Baru kalau ebrkaitan dengan imej, misalnya yang dibungkus kertas itu mencantumkan unsur “ramah lingkungan”, maka saya akan pilih itu. karena ada nilai yang saya anut, yakni saya mendukung bisnis yang ramah lingkungan.

20/04/16, 22:02 – Julie NavaBranding:

Ada sedikit lagi, kalau yang main diskon itu, menurut saya itu juga trik marketing. Kita sebagai konsumen yang harus jeli. Saya kurang bisa bilang itu Islami atau bukan, karena ya itu tadi, ada faktor unsur nilai brand dan taktik marketing.

20/04/16, 22:04 – Julie NavaBranding: Tapi secara pribadi, jika saya menemukan bisnis yang seperti itu, yang menawarkan diskon bombastis tapi ujung-ujungnya sama harganya, kemungkinan besar saya akan pilih penjual lain. Sebab bagi saya, tiu sudah terlihat jelas trickingnya.

Jika ada yang berkenan add saya, bisa add Facebook dengan nama Artha Julie Nava.

atau Twitter dengan nama @julie_nava 🙂

Iklan