Tag

Share Story Oleh Bp Imam Wibisono

Owner Coffeephile
13 Agustus 2016
=========================

Assalamualaikum wr.wb… Selamat malam bapak ibu, perkenalkan nama sy Imam Wibisono, asal Palembang, tp saat ini sedang domisili di bogor sampai akhir agustus 2016 ini untuk menyelesaikan studi..

Resminya sy dipanggil Imam, tapi kalo teman-teman di kedai palembang suka manggi Wibi 😊

Sy mohon ijin ya buat sedikit cerita ttg usaha saya yg masih seumur jagung ini… Mohon maaf kalo gaya penyampaian nanti yg kurang sistematis & gak formal πŸ™πŸ»

Perkenalkan ini usaha saya : Kedai Coffeephile, spesialis kopi sumsel. Ini semacam kedai kopi kecil tongkrongan anak muda yg terletak di kota palembang.

Kedai coffeephile berada di jl. A.Yani kec seberang ulu 2 palembang, sekitar 5 menit dari jembatan Ampera & letaknya berada disekitar kampus. Jadi pangsa pasar utamanya memang mahasiswa

Kami mulai beroperasi pada tanggal 23-April-2015 dengan kondisi seadanya… Hanya baru menyajikan kopi tubruk, es teh, & mie goreng/mie rebus. Ada yg miladnya tgl 23 april ? Entar bisa makan gratis di kedai kami wuehehe 😊

Jadi… Pada tahun 2013 yg lalu, saat sy baru lulus S1. Sy bingung mo kerja apa, sampai muncullah tawaran dari teman untuk interview di Nesc*fe ~ salah satu industri kopi instan di Lampung, di waktu yg sama sy tertarik untuk ikut program pembinaan kewirausahaan selama 1 tahun di bogor.

Orang tua lebih cenderung agar sy ikut interview kerja aja, disisi lain sy pengen banget belajar wirausaha pada saat itu.

Singkat cerita sy lolos interview kerja & dipanggil untuk mulai bekerja, disisi lain seleksi program pembinaan belum jelas pengumumannya, jadi karena sdh ada yg pasti & keluarga sangat mendukung, baiklah “sy akan berangkat ke lampung pikir saya.”

H-1 sebelum brngkat ke lampung, sy menerima SMS kalo sy lulus seleksi program pembinaan kewirausahaan di Bogor. Sy langsung putar arah, ijin ke orang tua untuk berangkat ke bogor apapun yg terjadi.

Saat itu ortu agak kecewa dgn keputusan sy, ‘kok milih yg belum jelas, padahal udah jelas diterima kerja.’

Dgn santun sy sampaikan impian & cita-cita saya ke ortu, hingga akhirnya mereka ridho sy berangkat ke bogor meski tak jadi diterima kerja & masa depan belum jelas.

*setahun ikut program pembinaan banyak yg sy pelajari ttg bagaimana memulai & mengelola usaha… Disana jg pertama kali sy berkenalan langsung dgn kopi

Ada seorang teman seasrama yg sama-sama ikut program pembinaan tersebut sdh punya usaha kopi terlebih dahulu. Sy banyak belajar sama dia.. “Dia pernah bertanya, potensi di desa mu ada apa aja mam ? Itu aja yg kamu kembangkan.” Ujarnya…

Sy cb mengingat2… Meskipun sarjana pertanian, tp waktur kuiah sy jarang sekali bersentuhan dgn yg namanya tnaman & masyarakat desa, lebih banyak mainnya 😁

Maklum sy jarang pulang kampung karena jarak dari kota ke desa lumayan jauh. Ah sy teringat, di desa sy desa Pelajaran, Kabupaten Lahat, jg banyak sekali kebun kopi tapi tidak terawat…

Nah karena potensi desa sy & usaha teman ini sama-sama kopi jadilah kami nyambung ngobrolnya, disanalah sy belajar banyak ttg kopi mulai dari pengelolaan di kebun smpai bagaimana cara menjualnya.

*tahun 2014 setelah program selesai sy kembali ke palembang.

Berbekal pengetahuan yg sy dapat dari program tsb, sy ajak teman terdekat untuk bikin usaha bareng…

Alasannya simpel, kenapa milihnya buka kedai kopi, bukan usaha produksi kopi dari kebun, karena itu yg kami fikir paling gampang jualnya..dibanding harus jual biji kopi skala besar.

Maka, waktu itu sy ajak 3 teman sy untuk bikin planing, mo seperti apa bentuk kedainya.

Ide awal yg kami usung sangat sederhana, semacam warung tenda yg buka pada malam hari di emperan jalan (kayak pecel lele) karena tau sendiri, biaya sewa tempat di kota palembang lumayan mahal untuk kami yg belum berpenghasilan.

Setiap hari kami cari referensi ttg budaya ngopi, jenis kopi, all about tentang kopi…

Sampai kami luangkan waktu untuk jalan-jalan ke Aceh, Medan, dan Lampung untuk mempelajari ttg budaya ngopi disana…

*Palembang bukanlah kota yg kental dgn budaya
ngopi, meski banyak desanya yg penghasil kopi, kopi2 tab langsung dikirim ke lampung & jawa, dan diganti brandnya..

Jadi wajar kalo orang jarang banget denger istilah “Kopi Palembang”

Sedih ya… Tapi ini yang kemudian jadi peluang kami untuk buka kedai kopi, karena masih jarang banget tongkrongan anak muda model kedai kopi di kota Palembang.

Waktu itu, sekitar tiga bulan sebelum kami merencanakan akan buka, pas banget anak muda sedang heboh keranjingan film “Filosopi Kopi” yg launcing di bioskop. Hal ini kami jadikan peluang untuk menggencarkan promosi, bahwa kami siap buka…

*padahal waktu itu kami belum dapat tempat sama sekali…

Kami terus sj promosi kegiatan “ngopi” kami di medsos : instagram & twitter, meski waktu itu kedainya masih fiktif alias belum ada…

Yg penting eksis dulu… Itu aja yg kami fikir.

Sampai sebulan berjalan kami belum jg dapat tempat, padahal untuk persiapan yg lain sudah cukup matang… Sampai akhirnya, kami bertemu dgn seorang bapak yg baik hati dari Aceh, yg mempersilakan kami untuk memakai tempatnya.

Allahu Akbar, kami rasanya seperti dapat durian runtuh: beliau yg baik hati ini mempersilakan kami untuk memakai bagian bawah ruko tempat tinggalnya untuk dijadikan tempat : kami hanya wajib membayar sewa per bulan dgn biaya yg cukup terjangkau.

Akhirnya bagian bawah yg kami pakai sebagai kedai ini kami dekorasi sendiri, semuanya tanpa menggunakan jasa artistik…

Singkat cerita film Filosopi Kopi launcing & kami sudah siap untuk buka.

Hingga saat ini untuk promosi, kami manfaatkan jejaring komunitas baik lokal maupun nasional…

Sebagai owner, kami pun tak segan untuk ngobrol langsung sama pengunjung untuk membangun kedekatan emosional, biar mereka datang lagi & lagi, serta turut memperkenalkan Coffeephile ke teman-temannya.

Nah untuk memberikan pelayanan yg baik kepada customer ini, kami coba memberikan pemahaman kepada para crew (karyawan) dengan semangat kekeluargaan…

Dari awal pertama buka yg hanya punya 1 crew sehingga sy & teman-teman owner kadang masih harus jadi koki, barista & cuci piring sekaligus, sekarang alhamdulillah kami sudah punya 7 crew yg kompak menggerakkan Coffeephile.

sehingga fungsi peran lainnya seperti pengelolaan operasional, administratif, & jaringan kini mulai berangsur membaik.

Alhamdulillah, setahun berjalan coffeephile sudah mampu membangun branding sebagai kedai kopi di Palembang yg mensupport kopi sumsel. Setelah audiensi & promosi yg intensif ke banyak pihak, bulan maret 2016 yg lalu, kami diberikan kepercayaan oleh dinas pariwisata & dinas perkebunan provinsi untuk turut mensupport festival kopi pertama dalam sejarah kota palembang.

Hingga saat ini, kami masih terus berusaha belajar agar bisa mengelola kedai kami lebih baik lagi. Harapannya bisa selevel “Setarbak” πŸ˜† . coffeephile bisa menjadi kedai kopi modern, tapi tetap mengusung lokal wisdom..

Alhamdulilah… Mungkin sy cukupkan dulu, Itu saja sekian dari saya selaku petugas seduh kopi. πŸ˜β˜•οΈ
Sy mohon support & masukan dari bapak ibu yg sudah lebih lama dan lebih sukses dalam menekuni usaha…

Salam dari kami pengelola kedai coffephile : Asep, (bule lupa namanya (customer dari jerman)), wibi, dan Eki

Maaf ya , nama coffeephile ada artinya, bukan nama film yg di balik 😁

😁 jadi dulu kita bingung mo nyari nama, sempet nyari nama Ampera Coffee, Sriwijaya Coffee, Besemah Coffee (nama suku sy, suku besemah).. Tapi semuanya kok mainstream ya… Terlalu lokal & kurang menjual…

Nah terus, temen saya Eki (yg ada di poto, sebelah kanan sy) pas lagi baca buku pelajaran, kebetulan profesinya memang guru biologi di bimbel.”

Dia sempet lagi baca tentang Sel makhluk hidup, yg cenderung menyukai keberadaan air (hidro-philic)

Trus tiba-tiba tercetuslah ide. “Kita ini kan cenderung menyukai kopi, kenapa gak kasih nama aja coffee-philic ?”

😁 setelah modifikasi kata dasar nya jadilah coffeephile : coffee : kopi , phile : kecenderungan untuk menyukai… Jadi artinya ya kami ini suka kopi.

Iklan