Tag

,

Kuline Personal Branding(Self Image&Gender)
Bersama Ibu Artha Julie Nava
Senin 22 Agustus 2016
======================

Julie NavaBranding:
Assalamualaikum wr.wb, kabar baik, mbak Devy. Senang sekali bisa. bertemu kembali degnan teman-teman di GEE 🙂

Terima kasih banyak atas kesempatannya, mbak Devy 😊 Semoga apa yang saya sampaikan bisa bermanfaat buat rekan-rekan GEE, terutama untuk meningkatkan personal branding masing-masing.

Request untuk topik malam ini menyangkut tentang Image dan Gender. Bagaimana kita mengatur image, dan apakah ada beda antara laki-laki dan perempuan dalam cara mengatur image, agar bisa mendukung personal brandingnya.

Sebelumnya, saya posting kembali penggalan dari materi saya yang dulu, yakni menyangkut tentang apa itu branding, dan apa saja yang tercakup dalam pengelolaan branding yang HOLISTIK alias KAFFAH.

Nah, silahkan membaca kembali keterangan saya mengenai unsur-unsur dalam Brand 🙂

Ada banyak definisi tentang personal branding, namun saya lebih cocok menggunakan term yang menyebutkan bahwa branding pada intinya adalah JANJI kita kepada orang lain (Konsumen, Khalayak, Masyarakat). Seberapa jauh kita bisa menunaikan janji itu, maka sejauh itu pula PERSEPSI terbentuk.

Begitu persepsi terbentuk, maka Brand kita menjadi punya posisi tertentu. Baik itu posisi buruk atau posisi bagus.

Selain unsur Janji, saya menerangkan pula tentang perlunya kita MENGKOMUNIKASIKAN BRAND DIRI kita.

Komunikasi di sini tidak terbatas hanya pada komunikasi lisan atau tulisan. Gerak-gerik kita, ekspresi, foto, busana, adalah hal-hal yang juga menjadi sarana komunikasi yang efektif. Bahkan seringkali yang non-verbal, akan mengungkapkan siapa diri kita yang sebenarnya, jauh lebih kuat ketimbang apa yang kita omongkan.

Contoh: jika ada orang preaching atau pidato bahwa dia orang yang dermawan, namun ketika ada peminta-minta datang, dia mengusirnya, maka tindakan mengusir itu yang mengungkapkan bagaimana brand diri kita yang sebenarnya. Bukan omongan kita.

Demikian pula dalam soal IMAGE, yang terwakili oleh macam-macam channel seperti Logo, pilihan style baju, foto, sikap tubuh, cara bicara, dsb……itu banyak mengungkapkan tentang siapa kita, dan bagaimana brand kita.

Sekarang pembahasannya saya fokuskan ke soal image berupa pilihan busana. Sebab waktu terbatas, kita selektif memilih ujung tema 🙂

Kita fokuskan pada soal bagaimana gaya busana bisa menunjang komunikasi brand diri kita.

Orang sering bilang, jangan lihat dari tampilan luar, tapi lihatlah yang di dalam.

Itu benar. Namun sebagai roang yang bergerak di bidang Branding Diri, saya menganjurkan agar teman-teman tetap memperhatikan soal tampilan luar. Sebab itu adalah ungkapan dari apa yang ada di dalam.

Kalau di dalam beres, sedangkan di luar tidak beres, itu akan jadi penghambat. Demikian pula jika tampilan luar beres, sedangkan isi di dalam berantakan, itu juga potensial merusak brand diri kita.

Sekarang saya kasih contoh beberapa figur yang dikenal sangat distinctive, alias sangat clear dalam pilihan image dan busana. Mereka adalah :
1. Donald Trump
2. Hillary Clinton
3. Bob Sadino
4. Ibu Risma
5. Jay J. Armes
6. Mahatma Gandhi

Donald Trump sangat memperhatikan soal pilihan busana, bahkan sejak dia kecil. Signaturenya adalah busana resmi, jas dan dasi. lalu rambut yang disisir berombak ke sebelah kiri.

Jangan dikira itu cuma kebetulan, cara dia menyisir rambut seperti itu. Dia sangat cermat memperhitungkan soal rambut, meskipun banyak jadi bahan olok-olok “rambut badai”. Itu signature dia, dan konsisten seperti itu.

Hillary Clinton. Di mana-mana, kalau teman-teman sedang google image tentang dia, maka akan terlihat sekali bahwa signature berbusananya adalah busana jas, denganw arna yang solid alias utuh. Jarang sekali dia pakai busana yang bermotif bunga-bunga atau berenda. Paling-paling, variasinya adalah busana dengan garis-garis atau kotak.

Jelas, solid, kuat. Itu unsur brand diri dia yang terpancar melalui pilihan gaya busananya.

Bob Sadino. Meskipun tidak pernah bertemu beliau secara langsung, saya menganggap bahwa beliau

adalah guru saya. Sebab dari ucapan dan tindakannya, saya belajar banyak.

Bob Sadino sangat clear mengkomunikasikan brand dirinya melalui busana. Berbeda dengan kebanyakan pengusaha atau eksekutif yang berjas dan berdasi, pak Bob memakai kemeja simpel dan celana pendek. Ia mengkomunikasikan brand dirinya yang dikenal sebagai orang yang tidak berjarak, punya kepedulian terhadap petani, dan informal.

Ibu Risma. Coba bandingkand engan Hillary

Ibu Risma cenderung memilih warna yang earthy, alias membumi. Sesekali juga dengan warna mencolok dan motif yang terbilang ramai.

Itu mengkomunikasikan diri Ibu Risma sebagai pribadi yang dekat dengan orang lain, rendah hati, namun sekaligus ekspresif.

Jay J. Armes. Ia detektif kenamaan di Amerika. Saya sering melintas di depan rumah dia. Salah satu orang terkaya di El Paso, Texas. Punya peliharaan banyak hewan liar, termasuk harimau. Orangnya flamboyan, cerdas, menarik.

Kalau teman-teman perhatikan, tangannya berupa besi dengan cantelan, persis seperti Captain Hook. Itu bekas dia kecelakaan. Sewaktu remaja, dia mencuri torpedo dari gudang kereta api. Tanpa sengaja, dia mengusap bagian pemicu ledakan. Jadilah torpedo itu meledak mengenai tangannya, sehingga harus diamputasi.

Namun justru cacat itu kemudian menjadi signature dia. Karena sangat jelas, sangat komunikatif, punya banyak story menarik, sangat cocok untuk mengkomunikasikan brand diri dia yang dikenal sebagai “badass” alias keren betul, sebagai detektif.

Bukan kebetulan jika saya kemudian tertarik dengan pak Bi. Ada unsur kesamaan dalam ekspresi branding diri.

Perhatikan signature busana pak Bi yang seringkali pakai warna hitam. Itu mengkomunikasikan brand diri beliau. Clear, fokus, kuat.

Saya punya kesamaan dalam memilih warna hitam putih. Karena hitam putih cenderung fokus, dan bisa “meniadakan” keramaian. Jadi ada kesamaan di unsur fokus.

Nah itu beberapa contoh dari pemilihan busana untuk mengekspresikan personal branding kita.

Jadi busana adalah alat komunikasi brand diri.

Namun, komunikasi itu bisa terhambat, jika unsur pendukung lainnya diabaikan. Yakni, soal KESEHATAN.

Badan yang sehat dan bersih, sangat menunjang komunikasi Brand Diri kita melalui busana/image.

Perhatikan jika teman-teman sedang tidak sehat badan, sedang kelebihan berat badan….pasti sedikit banyak akan merasa terganggu saat akan difoto atau memilih busana.

Itu sebabnya, orang-orang yang sadar dengan pentingnya Brand Diri, pasti akan memperhatikan soal kesehatan. Sebab itu bisa amplify, alias memperkuat image kita.

Dulu pernah ada sharing dari mbak Tya Subiakto tentang bagaimana ia melakukan diet dan menjaga makan. Mbak Sally Giovany juga demikian. Ia sangat concern dan cermat dengan apa yang dimakan. Sebab itu nanti akan berpengaruh ke soal komunikasi brandingnya.

Jadi tidak sekedar busana atau foto, melainkan juga segala sesuatu yang menjadi penunjangnya.

Jangan lupakan penunjang image Anda 🙂

Baik, mbak Devy, saya rasa sekian dulu sharing dari saya. Silahkan bisa dilanjutkan dengan tanya jawab 😊🙏

Devi 9an1:
1.Ekha Putri,Yogurt Bandung,Ogan Ilir:
Asslm. Mbak sy mau mengajukan pertanyaan utk mbak artha. Kalau ada seorang perempuan ingin dikenal dan dikenang sbg ibu rumah tangga dan pengemban dakwah yg baik. Namun di lain pihak dia melakukan hobi dan membantu suami dg bisnis. Personal branding yg mana yg hrs ia pilih? Apa utk personal branding dg figur perempuan shalihah dan sayang keluarga. Dan utk bisnisnya tdk ada personal branding tapi product branding saja. Atau bisa di match? Misal kl ada pertemuan bisnis ttp bawa anak dan suami (kl bisa)? Mohon penjelasannya terima kasih

2.Pertanyaan sy bila brand kita sdh negative apa yg harus dilakukan dan butuh brp lama tuk recovery?
(Nani Kemal,Serba Rendang,Bogor)

3. Usaha saya jasa tapi sudah diprivatisasi oleh sebuah perusahaan besar untuk mengurus pihak mereka saja…jadi ga boleh dalam akad bisnisnya melirik yg lain…apakah u kasus ini saya sebagai owner masih perlu mengupgrade merefresh personal branding saya. Awalnya juga ini buah dari perjuangan suami saya…sy h

y melanjutkan
(Devi,catalyst5,subang)

4.Anonim:
Bagaimana caranya kita membentuk/membranding diri agar terlihat sebagai wanita yang cerdas meskipun kita tdk secerdas itu?

Jgn disebutin nama saya nya ya bu 🙏

5.Ketty, K’alea,Jakarta:
Apakah personal branding yg kita create itu berhubungan dg bisnis kita? Bagaimana menentukan arah personal branding. Saya kebetulan tau pak Bi. Org advertising itu, krn sifat pekerjaannya. Jadi biasanya cara berpakaiannya cenderung casual. Keseharian kita, terutama laki2 cenderung T-shirt n jeans. Warna hitam Pak Bi itu krn nilai spiritual. Cerminan dr lat bel org. Sdk ada org yg sengaja mencipt image ttt krn pekerjaan. Contoh: Tantowi Yahya dulu, dlm wawancaranya saking pengennya dikenal sbg MC, kemana2 selalu bergaya a la presenter.

6. Lanjutan pertanyaan no 3..maksdya saya jadi malas promo2 usaha saya karena terikat janji,ga bisa promote usaha jasa ga perlu upgrade pb lagi kah?…jadi dicoba dengan membuat diversifikasi usaha…dari jasa ke perunggasan…jadi sy bisa bentuk pb baru u usaha baru tsb. Koreksi please bu julie 😍🙏😊

7.Anonim :
Nitip pertanyaan u ivu artha julie ya mba devi tapi nama saya hapus dulu..
Mengubah persepsi bagaimana ya bu….terus terang usaha saya agak sulit berkembang karena persepsi keluarga besar saya duluuuu kurang bagus..dan berimbas ke saya…. Terima kasih banyak.

8.Rizqo ,Fondre Chocolate,jember:
Untuk membangun personal branding agar kita dikenal dekat dg petani apakah hrs meniru pak bob sadino?

Saya ingin mengangkat kakao indonesia bu

Jd hrs dimulai dr petaninya

9.Devi 9an1:
Sambil menunggu..boleh kami tahu…kenapa ibu memilih profesi yang sekarang?

10.Kalo boleh…
Bgm dengan cara atau gaya bicara bu dalam PB?

Jawab 1
Untuk mbak Eka,

Cob lebih di-clearkan tentang konsep Ibu Rumah Tangga yang baik dan pengemban dakwah.

Clearkan dulu konsep itu. Apakah dengan membantu suami dan melakukan hobi, akan dilihat sebagai “bukan Ibu Rumah tangga dan pengemban dakwah yang baik”? Atau apakah memilih produk yoghurt, itu bertentangan dengan brand sebagai IRT dan pengemban dakwah?

Clearkan itu, dan jika jawabannya tidak bertentangan, maka silahkan jalan terus 🙂

Untuk soal produk, tergantung mana yang hendak dijadikan prioritas. Orang menyambung nama mbak Ekha sebagai pribadi, atau mbak Ekha sebagai penjual yoghurt. Pilih fokusnya dulu 🙂

Jawab 2
pertanyaan kedua dari mbak Nani Kemal:

Tergantung dari “tingkat kerusakan” yang sudah ditimbulkan oleh persepsi negatif yang ada. Jika sudah terlalu dalam, akan perlu waktu lebih lama tentunya.

Contoh: Bill Clinton. Sampai setua ini, dia masih dibayang-bayangi skandal dengan Monica Lewinski. Demikian pula dengan Monica.

Namun jika kerusakannya tidak terlampau parah, maka biasanya antara 3 bulan hingga setahun, jika KONSISTEN, maka persepsi baru akan terbentuk, menggantikan persepsi lama.

Jawab 3
Untuk mbak Devi, saya kurang tahu, apakah dalam akad tersebut mbak Devi dilarang tampil dengan penampilan tertentu? Alias mbak Devi sudah jadi brand ambassador sekalian?

Menurut saya, tetap perlu upgrade personal branding. Itu adalah hak, sekaligus kewajiban individu.

Setahu saya, jika ada perusahaan terikat akad seperti itu, hanya dalam soal produk. Alias tidak boleh menyuplai produk serupa ke perusahaan lain. Namun untuk soal owner, tentu masih bebas melakukan upgrade, selama tidak merusak kesepakatan.

Jawab 4
Wkwkwkwkwkwk….
Kita branding diri tujuannya tidak untuk pura-pura 🙂 Jika kita merasa tidak “secerdas” itu, tidak perlu memaksakan diri. Nanti kalau ketahuan, malah menimbulkan persepsi negatif.

Namun saya menangkap satu hal dari pertanyaan ini, yakni KONSEP TENTANG KECERDASAN.

Apa sih cerdas itu? Apakah hanya berhubungan dengan IQ? Ataukah ebrhubungand engan kepandaian seseorang dalam bicara?

Ingatlah bahwa ada yang namanya MULTIPLE INTELLIGENCE. Alias tipe-tipe kecerdasan yang berbeda. Antara lain:

Musical–rhythmic and harmonic.
Visual–spatial.
Verbal–linguistic.
Logical–mathematical.
Bodily–kinesthetic.
Interpersonal.
Intrapersonal.
Naturalistic.

Coba temukan, di mana sebena

rnya Kecerdasan Anda, dan fokuslah di situ. Tidak perlu meniru kecerdasan orang lain 🙂

Jawab 7
Jenis bisnis yang kita pilih, sebenarnya adalah salah satu ekspresi dari brand diri kita.

Perhatikan bahwa tidak semua orang cocok dengan jenis bisnis tertentu. Ada yang cocok dengan MLM< ada yang cocok dengan reseller, ada yang cocok dengan bisnis mengajar dan konsultan seperti saya, ada yang cocok dengan bisnis di bidang komunikasi, dll.

Jadi dengan sendirinya, sadar atau tidak sadar, personal branding kita akan berhubungan langsung dengan bisnis yang kita jalani. Kalau bisnisnya nggak cocok, sebaiknya luangkan waktu utnuk mencari yang cocok dulu. Karena nanti akan mempermudah sambungannya. Nggak bentrokan. Misalnya orang pemalu dan pendiam, bisnisnya banyak berhubungan dengan pidato. Itu akan berat. Bisa siih, tapi perlu waktu lama.

Untuk pak Bi, warna hitam adalah ekspresi spiritual? Wah, itu berarti bertambah lagi salah satu kesamaan saya dengan beliau. Sebab saya juga cenderung ke arah spiritual. Banyak sekali status maupun tulisan saya yang tanpa sadar selalu merujuk ke arah itu.

Jawab 5
Untuk mengubah persepsi, kita harus tahu dulu bagaimana sebenarnya bentuk persepsi orang lain. baru kemudian kita bisa cari benang merahnya dan mencari solusi.

Saya anjurkan untuk ambil assessment, supaya tahu benar seperti apa bentuk persepsi yang muncul. Sebab tanpa evaluasi menyeluruh dan sistematis, kita hanya akan mengira-ngira, dan itu sulit sekali untuk dicarikan jalan keluar yang tepat.

Saya ada jasa assessment personal branding, jika ada yang berminat.

Jawab 6
Salah satu kelemahan dari kerjasama yang demikian, memang seperti itu 🙂
Itu terjadi juga pada produk brand bernama LUSH. Tadinya ia menjadi supplier dari brand THE BODY SHOP. Kemudian memilih memisahkan diri dan mengembangkan usahanya kembali.

Membuat diversifikasi, sangat bagus untuk bisa bergerak leluasa. Sebab mau tidak mau, memang kita akan butuh media berekspresi. Dan betul itu, jika produk kita sudah di tangan pihak lain, kita akan “malas” mempromosikan. Sebab rasanya seperti bukan punya kita lagi.

Jawab 8
Salah satu prinsip utama dalam branding adalah: TIDAK JADI FOTOKOPI ORANG LAIN 🙂

Meskipun kita belajar dari Pak Bob, kita olah kembali hingga menjadi diri sendiri. Bukan fotokopian orang lain, dan bukan jadi pak Bob Sadino kedua.

Temukan gaya mas Rizqo sendiri, gimana memilih image atau tampilan berbusana yang bisa memperkuat komunikasi brand diri mas Rizqo.

Jawab 9
Julie NavaBranding:
Ini benang merahnya panjang hehehehehe…..
Secara kebetulan, tanpa sengaja, sejak masa kuliah saya sudah fokus branding diri untuk karir selanjutnya. Saya banyak sekali jalin networking dengan orang-orang yang saya perkirakan bisa bantu saya meraih cita-cita, yakni kerja di lembaga luar negeri.

Saat kerja, upaya branding diri saya tetap berjalan. Namun yang belum saya sadari saat itu, adalah motivasi saya. Yang ternyata terdorong oleh persaingan dengan saudara saja.

Setelah saya sadar itu bukan motivasi yang baik, maka saya ganti haluan. Membenahi motivasi, dan fokus pada apa yang ada dalam diri.

Hingga kemudian saya fokus pada entrepreneur, menulis, dan branding. Sebab itu sangat terkait dengan value yang saya miliki, yakni penyuka kebebasan berekspresi. Mandiri secara finansial, memungkinkan kita punya kontrol lebih besar dalam hidup. Menulis adalah media ekspresi pikiran yang efektif. BRanding adalah salah satu cara untuk membuat kita bisa merdeka jadi diri sendiri 🙂

Jawab 10
Julie NavaBranding:
Itu juga perlu diolah 🙂
Kalau ada waktu dan biaya, sempatkan diri untuk belajar Public speaking atau strategi komunikasi, untuk membantu kita menjadi lebih baik dalam berkomunikasi. Kita tidak harus jadi pembicara di depan orang banyak, namun ilmu komunikasi tersebut akan sangat membantu jika saatnya diperlukan.

=========END=========

Iklan