Profile

Nama Lengkap : Susanti Tungka atau yang lebih dikenal dengan nama Santi Tungka
Alamat : Perum Bogor Raya Permai, Blok FD  IV NO.32  RT 001 RW 12, Bogor
Tempat/tgl lahir : Jakarta / 28 Mei 1974
Jumlah anak : 3 orang (2 putra dan 1 putri)
Riwayat Pekerjaan : FKM UI       2001-2007
FK UMJ       2007-2012
RS Duafa    2013-2015

Assalamu’alaikum. Wr. Wb.

Terima kasih saya ucapkan atas kesempatan yang diberikan kepada saya. Sebenarnya saya agak ragu juga nih untuk share story kepada teman-teman yang luar biasa di sini, dan tentunya lebih banyak ilmu dan pengalamannya dari saya.

Saya memulai usaha minuman cincau hitam diakhir tahun 2011. Banyak yang bertanya mengapa cincau hitam yang saya pilih. Jujur saya juga tidak tahu persis kenapa cincau hitam yang saya pilih.

Saat itu pulang umrah saya hanya berpikir ingin membangun sebuah usaha yang bisa membantu orang-orang yang butuh pekerjaan namun kemampuan, pendidikan dan akses terbatas. Berbagai macam ide muncul mulai dari ide untuk usaha fashion sampai ke usaha makanan dan minuman.

Setelah saya berpikir panjang dan berdiskusi dengan suami akhirnya saya putuskan untuk membuat usaha minuman cincau hitam. Dengan beberapa pertimbangan :

  1. Saya sudah seringkali menjual minuman cincau hitam ini di eventevent bazar dengan kemasan cup. Dan saya melihat respon konsumen yang bagus. Pernah dalam event bazar yang diadakan di kantor suami terjual hingga 400 cup.
  2. Saya berusaha mencari sesuatu yang berbeda dengan produk lainnya. Dan saat itu saya berpikir membuat produk yang disukai anak2 karena cincau menyerupai gel.
  3. Saya juga memilih cincau karena Bogor merupakan salah satu kota penghasil cincau.

Banyak kendala yang saya temui dalam membangun usaha ini.

  1. Upaya mempopulerkan rasa cincau yang pada umumnya orang mengenal cincau hitam sebagai campuran es. Namun saya membuatnya menjadi minuman dalam kemasan botol.
  2. Mempertahankan mutu minuman yang tanpa menggunakan bahan pengawet tetapi tidak mudah rusak.
  3. Mendidik karyawan yang low educated, dll.

Jujur saya merasa belum pantas untuk menyebut usaha ini sebagai sebuah bisnis. Karena memang sampai saat ini, usaha ini baru mampu membiayai operasional saja. Belum bisa memberikan hasil dalam bentuk rupiah seperti bisnis pada umumnya. Suami saya seringkali mengatakan bahwa usaha ini adalah social enterprise. Karena dalam situasi apapun dan bagaimanapun produksi tetap harus jalan dan karyawan harus tetap digaji. Seringkali saat saya down saya berpikir untuk menutup usaha ini, namun saya tidak mampu melihat harapan para karyawan pupus. Mereka menggantungkan rezekinya lewat usaha ini.

Tahun pertama sampai pertengahan tahun ke 2 usaha langsung saya yang pegang. Tahun berikutnya saya beri kesempatan kepada adik saya yang saat itu baru hijrah dari Manado untuk menjalankannya. Adik saya hanya sanggup bertahan sampai 2 tahun. Sampai akhirnya dia menyerah dengan alasan bahwa ruh dari usaha ini ada di saya. Mungkin juga karena background pekerjaan sebelumnya adalah fotographer. Kemudian usaha cincau hitam ini saya pegang kembali dengan merekrut beberapa tenaga kerja.

Mungkin agak berlebihan, tapi ya memang kenyataannya demikian. Karyawan saya terdiri dari 2 orang karyawan produksi dan 1 orang tenaga kurir. Karyawan produksi adalah 2 orang ibu rumah tangga, yang satu janda beranak 5 dan yang satu adalah ibu rumah tangga yang punya keinginan menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Dan Alhamdulillah dengan perantaraan usaha ini, mereka bisa terbantu. Anak karyawan saya bisa kuliah dengan segala upaya yang kami diskusikan bersama.

Pendekatan yang saya pakai dalam menghadapi karyawan dengan menggunakan azas kekeluargaan. Walaupun memang banyak sekali kelemahannya. Saya tidak menerapkan jam kerja, tapi lebih ke pendekatan output. Mereka datang menyesuaikan dengan jumlah produksi hari itu. Rata-rata per hari saya memproduksi 200 botol, dari hari Senin-Sabtu. Kenapa demikian, karena saya paham mereka adalah ibu rumah tangga yang punya kewajiban utama di rumah yaitu mengurus keperluan rumah tangga, memasak dll. Terlebih satu karyawan produksi saya adalah single parent yang memiliki 5 anak yang masih bersekolah di sekolah dasar. Karena tujuan saya adalah mereka bekerja namun tetap bisa mengurus keperluan keluarganya.

Wah saya bingung nih, karena mungkin cerita saya agak morat-marit. Ada hal menarik lainnya yang ingin saya sampaikan di sini. Pada awalnya minuman cincau yang saya buat adalah minuman cincau hitam dengan rasa jeruk nipis. Namun baru beberapa bulan berjalan ternyata saya dihadapkan pada satu peristiwa yang cukup mencengangkan namun disitulah saya mendapatkan ide yang sampai sekarang akhirnya menjadi produk utama kami. Saat saya mengantar anak untuk bimbel, saya bertemu dengan seorang ibu yang ternyata anaknya satu sekolah dengan anak saya. Saat itu saya bertanya apakah dia pernah membeli minuman cincau hitam yang dijual di kantin sekolah (saat itu saya titip jual di kantin sekolah anak saya). Ibu itu bilang pernah membeli 3 cup, namun dia hanya meminum 1 cup dan 2 cup lainnya dibuang. Ibu itu tidak tahu bahwa saya adalah produsennya. Saat saya tanyakan mengapa 2 cup lainnya dibuang, beliau menjelaskan bahwa rasanya asam. Beliau tidak suka rasa asam. Kemudian saya tanyakan lebih lanjut apakah beliau membaca tulisan rasa pada label kemasan, beliau menjawab tidak membacanya. Saat itu, jujur, saya syok namun disitulah otak saya berpikir keras untuk menyempurnakan dan memunculkan rasa baru.

Setelah kejadian itu, saya memproduksi 2 varian rasa, jeruk nipis dan pandan madu. Namun beberapa waktu terakhir untuk mendapatkan jeruk nipis yang bagus agak sulit dan mahal. Banyak konsumen mengeluh karena rasa jeruk agak pahit. Dan akhirnya produksi rasa jeruk nipis kami hentikan.

Saat ini jumlah produksi kami memang masih dibawah harapan kami. Namun sudah lebih meningkat dibandingkan beberapa waktu lalu. Ini saya rasakan setelah usaha ini saya pegang sendiri. Sejak awal saya bangun usaha ini, baru 1 tahun terakhir ini saya langsung yang pegang semuanya. Mulai dari kontrol produksi sampai ke pemasaran dan keuangan. Hal itu karena sampai bulan November 2015 saya masih berstatus sebagai pekerja tetap.

Dalam menjalankan usaha ini, saya mengandalkan kemampuan financial yang ada, walaupun memang sangat terbatas.

Masalah perizinan, Alhamdulillah sejak awal usaha semuanya sudah lengkap. PIRT, HALAL, SIUP, TDI, TDP, NPWD sdh tersedia. Walaupun tidak semua saat ini digunakan.

Mungkin sementara itu yang bisa saya sampaikan bu Dewi.

Terima Kasih

 

 

Iklan