Judul materi ini sangat urgent. Terkait dengan diri kita sebagai muslim, bahkan menjadi salah satu perhatian Rasulullah; tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Kalau proses islamisasi diri kita berjalan dengan baik dan maksimal, pasti terbentuk karakter “tangan di atas”. Ada 10 karakter mulia yang harus dimiliki seorang muslim, yaitu:

1. Akidah bersih

2. Ibadah benar

3. Akhlak kokoh

4. Wawasan luas

5. Fisik sehat & kuat

6. Ekenomi independen atau kreatif

7. Mampu mengendalikan syahwat

8. Manajemen waktu baik

9. Semua urusan teratur

10. Tanggung jawab sosial

Sembilan karakter pertama adalah dasar untuk sampai kepada karakter ke-10. Akan amat sulit orang baru berkorban untuk org lain jika sembilan karakter pertama belum dimiliki. Dalam muamalah atau ekonomi dan bisnis misalnya, karakter ke-10 sulit kita temukan. Apalagi dalam dunia politik lebih sulit lagi.

Bahkan dalam dunia dakwah sendiri sering kita lihat keluar dari koridornya seperti infak, misalnya. Sering kali infak dilakukan untuk memancing rezeki yang lebih besar lagi. Ini jelas sebuah pemyimpangan dari ajaran Islam

Nabi kita dingatkan Allah agar tidak berharap balasan dari manusia atas semua jasa dan pemberiannya pada umatnya. “Jangan kmu memberi dg tujuan dapat balasan yang lebih banyak atau Al_Muddassir.

Sebab itu Nabi kita mengajarkan dalam muamalah itu prinsip dasarnya memberi, bukan meminta. Rasul bersabda : Allah merahmati seseorang apabila menjual mudah dan apabila membeli mudah. Artinya, prinsip memudahkan dalam muamalah harus ada jika ingin muamalah itu berkah.

Mudah dalam pengertian tidak meletakkan harga sesuai hitung-hitungan kita sebagai penjual. Sebaliknya, mudah pula dalam menawar sebagai pembeli Begitu jg dalam menagih hutang, bahkan spirit Al-Qur’an mengajarkan pada kita untuk memberi tangguh orang yang berhutang yang masih dalam kesulitan, bahkan diputihkan atau dibebaskan lebih baik dan lebih dekat kepada taqwa.

Dalam dunia dimana materialisme yang mendominasi kehidupan kita saat ini, barangkali spirit Quran di atas mungkin dianggap gila. Inilah faktanya sehingga spirit kapitalisme yang mendominasi kehidupan muamalah kita. Akhirnya yg kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin.

Saya pernah diundang oleh salah satu BUMN terbesar di negeri ini membahas fiqih muamalah, khususnya terkait adab menagih hutang. Lalu saya jelaskan bagaimana Islam mengajarkan fiqih muamalah dengan detil dan adil. Termasuk dalam menagih hutang. Mereka kaget setelah saya jelaskan prinsip Islam dalam muamalah termasuk adab menagih hutang.

Faktanya terungkap bahwa perusahaan-perusahaan besar itu hanya mau menang sendiri. Dibuat posisi sekuat mungkin agar konsumen atau pelanggan selemah mungkin. Yang terjadi adalah pemiskinan dan penjajahan.

Itulah bedanya Islam dengan yang lain. Islam mengajarkan kesetaraan hak, keadilan dan kasih sayang. Sedagkan kapitalisme dan lainnya mengajarkan dominasi, monopoli, hegemoni dan perbudakan

Karena Islam mengajarkan unttk kepentingan akhirat jauh lebih penting, sedangkan kapitalisme dan lainnya mengajarkan cinta dunia dan menyembah dunia.

Ajaran islam satu kesatuan antara dunia dan akhirat, antara aqidah dan muamalah, antra akhlak dengan muamalah dan politik.

Sedangkan ajaran kapitalisme dan lain-lain, hanya tau urusan dunia. Oleh sebab itu tidak ada kaedah hidup yang bisa jadi pegangan, kecuali hanya satu yaitu KEPENTINGAN HARTA DAN DUNIA.

Wajar kalau di zaman sekarang kebahagiaan, ketenangan, kasih sayang sesama, lebih sulit diperoleh dari harta benda lainnya. Karena hidup sudah tidak seimbang antara materi dan inmateri.

Ibarat pesawat terbang dengan satu sayap, sehebat dan sekuat apapun satu sayap itu, maka tidak akan bisa terbang. Kalau pswt sudah tidak bisa terbang, harganya akan jatuh n menjadi barang rongsokan yang dinilai dengan kilogram sebagai besi tua.

Bisnis dlm Islam hakikatnya mencari ridha Allah, bkn mencari harta itu sendiri.. krn harta itu alat/sarana, sdgkan ridha Allah itu tujuan..

Sbb itu prinsip Islam ttg harta ada2; dari mana /bgimn memperolehnya dan kemana didistribusikan/digunakan

Kendati harta itu didapat dg jln yg halal, namun tdk digunakan di jln Allah, mk kita blm lepas dari pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Atau kt tumpuk dan tdk digunakan di jalan Allah jg tdk akan lepas dari pertanggungjawaban akhirat..

Kendati kiat sdh tunaikan kewajiban zakat… karn prinsipnya harta itu dlm Islam adlh salah satu jembatan yg menyampaikan kita ke pintu syurga.

Pantas jika Abu Bakar sahabat Rasulullah membekanjakan semua hartanya di jalan Allah, Ustman separuhnya dan bgt juga Abdurrahman Bin Auf Jadi, fiqih muamalah tidak boleh terputus /terpisah dari fiqih aqidah, fiqih akhlak dst agar tdk terjadi split personality..

Terakhir, aktivitas muamalah hrs bisa membentuk karakter “pemurah”, baik saat menjual maupun saat membeli, krn hakikat muamalah itu bkn mencari harta itu sendiri, tapi mencari ridha Allh Ta’ala, sama halnya dg profesi lainnya.

Maka tdk heran, Rasulullah adalah manusia terpemurah dan sangat dermawan dan telah mencontohkan pada umatnya sepanjang hidup beliau. Kita tidak akan temukan istana, kebun dan ladang ternak beliau jika ke Madinah, yg kita temukan hanya masjid dan pusara Beliau..

Q: Assalamualaikum ust..sy mau bertanya.sy suka bersedekah dan entah kenapa setelah itu selalu ada saja rezeki dari Allah dan semua urusan selalu dipermudah.akhirnya sy jd senang berbagi.kalo seperti itu hukumnya apa.kdg sy selalu mngajarkan kpd anak untuk berbagi dan sy selalu blg kalo kita berbagi rezeki pasti mudah didapat dan semua irusan dipermudah.apa itu salah? dan apakah itu sdh tanda2 kita cinta dunia ust 😭😭..mdh2an bukan ya ust Aaminn. Mohon penjelasannya (Neneng,Mutiara Katering,Bogor)

A: Semua amal itu hrs hanya mencari ridha Allah.. tidak boleh dikaitkan dengan kepentingan dunia. Kasusnya seperti yang dijelaskan Rasulullah saat mengetahui ada seorang sahabat berhijrah ke Madinah utk menikahi seorang wanita, lalu beliau menjelaskan di antaranya: setiap kita hanya akan mendapat apa yg kita niatkan. Jika niatnya dapat wanita atau harta, hanya itu yang kita dapatkan, ridha Allah atau pahala akhirat tidak kita dapatkan. Jika dengan berinfak itu rezki kita Allah mudahkan, itu semata urusan atau bonus dari Allah di dunia, tapi bukan jadi tujuan.

Q: Dalam Islam, bahkan fakta seperti yang bapak rasakan, tidak semua orang bisa jadi pengusaha. Sebab itu, sebelum melibatkan seseorang berusaha atau bisnis perlu rekrutmen yang baik, kemudian pelatihan yang cukup. Setelah itu 2 Pertanyaan utk Ust Fathuddin: Saya dlm usaha bermitra dgn petani sekitar. Lahan saya sediakan gratis. Alat, bahan, upah harian saya pinjamkan dgn perhitungan di akhir dipotong dari hasil panen tanpa bunga sama sekali. Hasil panen pun sy beli tunai dgn harga bagus. Tapi ada saja petani yg memanfaatkan kemudahan ini dgn tdk bertanggungjawab. Pinjaman upah harian diambil tapi kerja tidak optimal. Alhasil panen tekor dan susah bayar utang. Saya khawatir kalo diputihkan utangnya malah tidak timbul jiwa tanggungjawab dan wirausahanya. Bisa jg diputihkan lalu tidak diajak usaha lagi, tapi ybs akan jadi pengangguran dan timbul masalah lagi. Bgmn menurut Ustad? Tks. (Akmal Dino,Smunda Agriculture,Bogor).

A: Dalam Islam, bahkan fakta seperti yang bapak rasakan, tidak semua orang bisa jadi pengusaha. Sebab itu, sebelum melibatkan seseorang berusaha atau bisnis perlu rekrutmen yang baik, kemudian pelatihan yang cukup. Setelah itu seleksi lagi mana yang berbakat dan punya kemauan yg kuat.

Di tengah jalan nanti pasti masah ada yang menyimpang. Sebab itu diperlukan tarbiyah islamiyah atau pembinaan keislaman yg berkelanjutan. Setelah itu, jika ditemukan yang tidak amanah dan jujur, coret atau keluarkan dari anggota. Berarti nasibnya adalah penerima zakat dan infak,bukan sebagai pengusaha. Mendidik satu org yang berbakat bisnis dan punya akhlak mualia, lbh baik drpd membina 1000 org yg tdk punya kualikasi. Karn satu org tsb kemungkinan di masa yg akan dtng mampu membantu 1000 org yg lemah ekonomi, atau lebih.

Q: Sistem yg berlaku saat ini adalah kapitalisme sy sendiri sedang berusaha tuk mencoba lepas dari riba tetapi apakah ada lembaga disini yg memang murni tanpa riba ? mohon penjelasannya ust tuk permodalan usaha (Nani,Serba Rendang,Bogor).

A: Riba adalah pinjaman uang atau barang, yang kemudian dikembalikan dengan uang atau barang sejenis dengan jumlah yg lebih. Alhamdulillah pemahaman seperti ini sudah mulai berkembang di negeri kita. Baik lembaga seperti bank, maupun individu. Insyaa Allah ada lembaga dan individu yang mau bertransaksi atas dasar muamalah dan bukan riba.

Q: Ini ada pernyataan Dari ustd “Sering kali infak dilakukan utm memancing rezki yg lbh besar lg. Ini jelas sebuah pemyimpangan dari ajaran islam”…. Hiks sy beranggapan kl infak sllu mengharapkan akan dignti Allah dgn yg lbh baik..itu bgmna? Apakah sebuah penyimpangan?

A: Iya, penyimpangan berat dan serius. Pertama terkait dg inti ibadah. Infak itu ibadah. Tujuanya adalah ibadah, harus hanya mencari ridha Allah, bukan lainnya. Menurut Imam Al-Fudhail : ibadah karena tujuan lain termasuk pujian manusia adalah syirik. Kedua, jika suatu ibadah diniatkan utk suatu kepentingan dunia, apapun bemtuknya, Allah hanya akan berikan spt yg kita niatkan, dan tdk mendapatkan balasan akhirat, spt dijelaskan hadits yg sdh dinukilkan sblmnya..

Q: Adab menagih hutang itu bagaimana? (Aning,Dapur Oebleg dan Tukang Satjur,Bogor) 

A: Adab menagih hutang, diantaranya, berkata lunak, tidak kasar apalagi mengancam seperti debt collector. Doakan yang berhutang agar Allah mudahkan ia membayarnya. Kalau usahanya lagi sulit karena faktor selain moral, bantu dengan berbagai cara seperti manajemen, injeksi modal dan lain-lain. Jika sampai waktu belum bisa bayar juga, tunggu sampai ia lapang. Dalam kondisi seperti ini, iman yang memberi hutang sedang diuji, apakah ia maafkan atau cut off atau bebaskan. Itu terbaik bagi kedua belah pihak di sisi Allah, atau tunggu sampa ia ada kemampuan.

6. Q: Assalamualaykum ustad,terkait adab berhutang,bagaimana cara yg diajarkan islam jika kita butuh dana untuk modal usaha yang kita tahu islam mengharamkan riba,smentara lembaga finansial diIndonesia sebagian besar (mungkin) masih trkandung riba didalamnya.mohon pencerahannya (Haris,Sinergy,Jakarta) 

A: Lihat jawaban no. 3

Q: Assalamualaikum Uztad..Jika menerima hadiah bgm? Saya paham saling memberi hadiah itu sunnah namun jika pemberian hadiah itu dikaitkan dengan rasa terima kasih atas sesuatu hal tapi yang menerima hadiah merasa belum layak…bgm ust? Hadiahnya keren2 lagi 🙈 (Devi,cv catalyst5,subang).

A: Hadiah adalah suatu pemberian dari hati yang ikhlas tanpa ada tujuan atau efek apapun. Jika hadiah itu terkait dengan suatu tindakan sebelumnya atau harapan pada sesuatu di kemudian hari itu bukan hadiah namanya, tapi rsywah atau sogok. ALLAH melaknat orang yang memberi sogok dan yang menerimanya.

Q: Mendidik satu org yg berbakat bisnis n punya akhlak mualia, lbh baik drpd membina 1000 org yg tdk punya kualikasi. Karn satu org tsb kemungkinan di masa yg akan dtng mampu membantu 1000 org yg lemah ekonomi, atau lbh ust kalo orang yg kita mau didik akhlaknya mulia tapi non muslim itu gimana? (Rachmat,Pie Tape,Bekasi).

A: Bisa saja orang kafir lebih baik akhlaknya dalam muamalah (bukan yang lainnya), seperti jujur misalnya. Karena kejujuran itu fitrah manusia normal. Jika kita bantu atau didik orang kafir sekalipun, kita akan dapat pahala. Bahkan membantu hewan pun dapat pahalanya. Tapi, jangan karena sulit mencari orang islam yang jujur, lalu semua perhatian ditujukan kepada orang kafir. Karena sejelek apapun seorang muslim, ia adalah saudara kita. Sebaik apapun orang kafir, ia bukan saudara kita.

Closing statement

Islam adalah sistem hidup yang paripurna mencakup semua sisi kehidupan. Semua sistem islam adalah satu kesatuan, tidak ada yang boleh diabaikan. Islam datang untuk menyelamatkan manusia di dunia dan dan akhirat.  Sebab itu, semua sistem Islam terkait dengan kemaslahatn akhirat . Maka itu, jangan sampai ada di antara kita memilih suatu ajaran islam untuk kepentingan duniawi semata seperti yang dilakukan oleh perusahaan atau pengusaha barat atau kafir saat ini berlomba-lomba masuk ke dunia perbankan, asuransi islam dan sebagainya. Mereka lakukan bukan karena iman dan mencari ridha Allah, tapi hanya dunia semata berdasarkan kecenderungan market.

Mari kita luruskkan niat semua aktivitas yg kita lakukan hanya karena Allah. Lakukan aktivitas tersebut berdasarkan ilmu Islam atau syariah islam. Tanamkan dalam diri semangat berjuang untuk Allah dan di jalan Allah.. Bangun network seluas mungkin. Tajamkan penciuman bisnis masa kini dan yang akan datang. Amati dengan teliti kecenderungan perputaran uang atau bisnis di masa yang akan datang. Hindari memandang masalah sekarang dengan kacamata kuda. Fokus pada proses, bukan target nominal yang akan dihasilkan. Just do it dan tawakkal pada Allah. Tingkatkan selaku taqwa pada Allah dan Allah pasti menunjuki jalan yang terbaik untuk kita. Mohon maaf jika ada yang salah dan kurang berkenan. Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Semoga Allah berkenan selalu bersama kita. Aminn

===========END==========

 

 

 

Iklan