Saya dulu sempat jadi agnostik (orang yang memiliki pandangan bahwa ada atau tidaknya Tuhan tidak dapat diketahui=red).
Karena saya lihat dalam agama Islam banyak aliran yang kurang jelas. Ustadz-Ustadz di tv banyak (yang saya lihat) yang condong ke selebriti Ustadz dan ilmu yang diberikan kurang bermanfaat bagi saya.
Saya juga sempat lihat agama lain, Alhamdulillah tidak sampai murtad.
Saya compare dengan Islam. Tetap Islam yang pure monotheism. Tapi lagi-lagi saya bingung…kok banyak Ustadz yang mengajak fanatik ke diri mereka dan golongan mereka. Dan penafsiran terhadap dalil jadi berbagi macam. Sedangkan Islami hanya ada satu, yaitu Islam.

Anyway, akhirnya saya jadi bingung sendiri, dan memilih agnostisme, dan stuck di-mempertanyakan apakah Tuhan itu ada? Alhamdulillah belum sampai atheis.
Saya terkena syubhat dari hasil pemikiran sendiri, saya sampai ndak mau punya anak. 10 tahun saya menikah, 7 tahun saya ndak mau punya anak. Saya menyesali itu semua.
Ternyata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam akan senang dengan banyaknya ummatnya nanti di padang masyar.
Sekarang saya lagi berusaha punya anak. Kemarin setelah kami hijrah istri saya hamil dan qadarallah keguguran. It’s okay, we’ll keep trying Insyaa Allah.

Nah ini turning pointnya:
This is the coolest part, the part where Allah gave me the hidayah, the biggest blessing in my life, yang saya tidak mau tukar dengan apapun di dunia ini.
Dulu saya sudah siap-siap mau beli rumah seharga 2,5 M. DP udah ready tentunya dengan bank. Lalu Ibunda saya tercinta (semoga Allah memberikan beliau jannah firdaus tanpa dihisab. Aamiin) berkata: “Nak, Mama ndak bangga kamu punya rumah bentuk seperti apapun kalau kamu menggunakan riba”.
Saat saya mengetik ini saya merinding dan mata saya berkaca-kaca.
It’s so vivid and clear perkataan Ummi saya saat itu. as if She’s still alive… by the way Alhamdulillah..
Ibu saya berkata, “Dosa riba yang paling rendah saja seperti berzina dengan ibu sendiri.”
Saya saat itu sudah nafsu ingin punya big house and fancy car, because I worked hard for my career, I deserve it.
Teman-teman yang high achiever di profesi saya mobil dan rumahnya mewah.
Awalnya saya berontak, tapi bukan membentak.
Saya bilang ke Ibu, “Ma, kalau kaek begini kapan mau punya rumah bagus?”
Ibu saya saat itu berkata: “Nak, kamu orangnya kan kritis, gimana kalau kamu dengerin aja kajiannya sendiri. Dengar penjelasan Ustadznya sendiri.”
Beliau berkata: “Tapi ingat, kalau dalilnya sudah jelas, hujjahnya sudah kuat dan ilmiah, kebenaran jangan ditolak. Kalau belum siap lain cerita. Tapi sadari kalau itu adalah sebuah kebenaran.”
Pada saat itu yang Ummi ana sarankan untuk dengarkan namanya radio Rodja 756 AM.
Saat itu jiwa saya berkecamuk. Bercampur antara sudah skeptis dengan Ustadz-Ustadz yang ada di Indonesia, nafsu ingin punya rumah, sifat saya yang naturally open minded dan takut dosa riba.
Akhirnya saya dengerin…dan dengerin…dan dengerin terus…
Dan akhirnya…the truth is so clear. Terang benderang. Yang malamnya seperti siangnya..
And that’s it..saya akhirnya decide untuk ndak mau menggunakan riba dalam bentuk apapun.

Lanjut ya…
Kemudian saya mulai mempelajari fikih pekerjaan saya.
Advertising itu syar’i, namun brand yang diiklankan dan bagaimana cara mengiklankannya bisa jatuh ke pelanggaran syariat.
Dulu saya meng-handle klien bathil seperti Marlboro, Class Mild (tagline talk less do more itu saya yang bikin), bank Danamon, HSBC, dan terakhir BNI(saya yang memenangkan pitchnya dan campaign bni semangat 46 itu saya yang propose untuk dijadikan brand voice-nya BNI).
Sedangkan saya sendiri tidak merokok.
Lalu setelah tahu mana yang syar’i dan tidak syar’i lalu saya mulai pakai list. Dan saya sudah menolak posisi dan kerjaaan yang meminta saya untuk mengerjakan yang tidak syar’i.
Terakhir di Kuala Lumpur saya dan tim kreatif saya di-hire untuk mengerjakan brand yang mubah (100 PLUS) minuman isotonik. Dan minuman green tea. Dan itu kami kerjakan sesuai syariat.
Kami saat itu mulai diminta untuk mengucapkan Natal, Deepavali, dan Gong xi fa cai dan setelah kami tahu ilmunya saya dan tim kreatif saya ndak mau mengerjakan Brand sering mengucapkan seasons greetings.
Kami juga mencoba mengembalikan uang gaji kami ke perusahaan (dalam jumlah man hour) karena menolak pekerjaan tertentu. Berusaha seadil mungkin walau kepada orang non Muslim.
Dan akhirnya qadarallah, setahun yang lalu perusahaan ditempat ana dan tim terakhir bekerja (di KL) kliennya sudah benar-benar tidak syar’i. Bank UOB dan Jack Daniels.
Saya dikasih dua pilihan: I can stay in the company but remove all my syar’iah list Or..I can resign
It was an easy decision for me and my team.
Kita semua resign..

Dan akhirnya kami coba bikin agensi syar’i dengan dibimbing oleh Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri hafidzahullah. Beliau ahli fiqih. S3 di Madinah. Tapi qadarallah, starting an advertising agency apalagi yang sesuai syariat yang cocok bajetnya dengan kemampuan kami ndak mudah. Karena kami ndak pakai investor. Karena ingin mempertahankan syariah. Jadi kami bootstrapping. But it wasn’t easy for all of us. But like I said before, it wasn’t supposed to be easy.

Dua bulan saya decide untuk menutup agensi kami, dengan berat hati. But it was the right thing to do. It wasn’t wise to keep going. And here I am now. Sekarang kami coba jualan brownies dan bikin buku cerita muamalah untuk anak-anak.
Dan saya juga lagi mencoba untuk buka usaha creative training/mentoring dan creative leadership. Agar kemampuan saya dalam bidang kreatif ndak mubazir.

Begitulah cerita saya. Semoga Allah memberikan saya dan keluarga keistiqomahan sampai kami meninggalkan dunia ini. Aamiin..

Semoga bisa diambil ibrohnya.

Iklan